Kamis, 17 November 2016

Contoh Surat Kuasa Pribadi dan Surat Kuasa Organisasi




Surat Kuasa Pribadi

Pihak-pihak yang bertanda tangan di bawah ini:

I.                   Pemberi Kuasa
Nama                     : Cantika
Alamat                   : Jalan Mawar No.4, Medan
Jenis Kelamin        : Perempuan

II.                Penerima Kuasa
Nama                     : Roni
Alamat                   : Jalan Mawar No.10, Medan
Jenis Kelamin        : Laki-laki

Dengan ini menerangkan bahwa pihak I menyerahkan sepenuhnya kepada pihak II untuk mengambil uang senilai Rp 50.000.000 di Bank BMD( Bank Masa Depan) dengan No.Rek.2 111111111111.

Demikian surat kuasa ini dibuat, untuk dipergunakan sebaik mungkin. Segala akibat yang ditimbulkan menjadi tanggung jawab pemberi kuasa
                                               
                                                                                                Medan, 10 November 2016

            Pemberi Kuasa                                                                  Penerima Kuasa





              Cantika                                                                                    Rio                                                                                       


 Surat Kuasa Organisasi

                                                            Nomor : 1207/KPU-MIN/VII/2016

            Pihak-pihak yang bertanda tangan di bawah ini:

I.       Pemberi Kuasa
            Nama               : Suharto
            Alamat             : Jalan Melati No.23 Medan
            Pekerjaan         : Direktur PT Lidah Buaya
            No. KTP          : 635421098
           
II.    Penerima Kuasa:
      Nama               : Rio
      Alamat             : Jalan Merpati No.16 Medan
      Pekerjaan         : Kepala Biro Administrasi PT Lidah Buaya
      No. KTP          : 523689007

            Dengan ini menerangkan bahwa, agar saudara Rio menandatangani akta pelepasan hak, pengurusan hak guna bangunan atas sebidang tanah yang terletak di Jalan Bunga No.8 Jakarta. Segala akibat yang timbul atas pemberian kuasa ini menjadi tanggung jawab pemberi kuasa.

            Demikian surat kuasa ini dibuat, dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.


                                                                                                            Medan, 16 November 2016


Pemberi Kuasa                                                                       Penerima Kuasa

                                                                             




   Suharto                                                                                       Rio


                                           































       
                                                         



Kamis, 27 Oktober 2016

Resensi Novel " Anak Perawan di Sarang Penyamun "



1.         Identitas buku
          Judul Novel                : Anak Perawan di Sarang Penyamun
          Penulis                        : Sutan Takdir Alisjahbana
          Penerbit                      :  PT Dian Rakyat
          Tahun Terbit                : 1991

2.         Kepengarangan
Sutan Takdir Alisjahbana, penulis novel “ Anak Perawan di Sarang Penyamun” ini ,  lahir di Natal, Sumatera Utara pada tanggal 11 Februari 1908. Beliau adalah seorang budayawan, sastrawan dan ahli tata bahasa Indonesia. S. Takdir Alisjahbana menutup usia pada 86 tahun di Jakarta, 17 Juli 1994. Beliau menikah dengan 3 orang istri serta dikaruniai 9 orang putra daan putri . S.Takdir Alisjahbana sekolah HIS di Bengkulu dan tamat pada tahun 1921. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, Bukit Tinggi. Lalu, dia meneruskan HKS di Bandung. Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, STA melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta. Sebagian karya-karya beliau yang telah dibukukan antara lain Tak Putus Dirundung Malang (novel 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel 1932), Tebaran Mega ( kumpulan sajak,1935), Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang ( novel,1936), Anak Perawan Di Sarang Penyamun ( novel,1940), Puisi Lama ( bunga rampai,1941), Puisi Baru ( bunga rampai,1946).

3.          Sinopsis
Anak Perawan di Sarang Penyamun
Suatu hari, ada seorang saudagar kaya raya dari Pagar Alam hendak pergi ke Palembang untuk menjual 50 ekor kerbau. Namanya adalah Haji Sahak. Ia pergi ke Palembang bersama dengan istrinya, Nyi Hajjah Andun  dan anak perawannya yang bernama Sayu. Mereka pergi bersama dengan penjaga-penjaga membawa berpuluh-puluh kerbau dan barang dagangan lainnya.
Sehabis mereka berhasil menjual kerbau-kerbaunya, mereka pun berjalan pulang ke Pagar Alam, tetapi hari telah malam dan mereka beristirahat di satu pondok. Pada waktu dini hari, sekelompok penyamun, yang dipimpin oleh Medasing masuk ke dalam pondok tersebut dan berniat untuk merampok harta-harta dan membunuh semua yang ada di dalam pondok itu.
Keinginan jahat mereka berhasil terlaksana. Haji Sahak dan para penjaganya telah terbunuh.Tetapi, istrinya masih hidup dan dalam kondisi parah. Setelah itu, mereka langsung memeriksa ke seluruh tempat di pondok itu dan mengambil semua harta-harta yang ada disana lalu mereka bawa pulang.
Tetapi, tiba-tiba pondok tersebut terbakar dan mereka mendengar suara seorang wanita yang berteriak-teriak. Mereka semua pun bingung siapa yang tersisa di pondok itu. Lalu, Medasing teringat kepada perempuan yang bersembunyi diatas, yaitu Sayu. Seperti bukan dirinya, dia langsung menerobos masuk ke dalam pondok dan menolong wanita itu.
      Wanita itu sekarang bersama dengan mereka walaupun hatinya sangat berat karena dia bersamaan dengan orang-orang jahat yang tidak punya hati yang tega membunuh orangtuanya yang tidak berdosa itu. Karena tidak ada pilihan lagi, Sayu pun terpaksa tinggal di sarang penyamun.
Suatu ketika, Samad, anak buah Medasing yang bertugas sebagai pengintai, datang ke sarang penyamun untuk meminta hasil dari perampokan kemarin. Pada waktu di sana, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik yaitu Sayu. Ia melihat terus wanita itu dan mengikuti kemanapun dia pergi.
Waktu itu, Sayu berkehendak untuk melarikan diri dari sarang penyamun itu. Tetapi, dia tidak tahu jalan di hutan ini. Lalu dia keluar dari pondok itu dan duduk di pohon di tengah hutan. Samad menjumpainya dan bertanya siapakah dia. Sayu tidak terkejut dengan Samad. Dia mengira Samad merupakan manusia biasa yang baik tidak seperti para penyamun itu.
Setelah Samad mendengar cerita Sayu, Samad pun berkata dan berjanji bahwa ia akan menolong wanita itu untuk keluar dari hutan ini dan bertemu dengan orang tuanya. Tetapi rupanya, Samad mempunyai maksud lain dia akan membawa lari wanita itu dan menikahinya karena dia begitu menyukainya walaupun Samad sudah berkeluarga.
Samad menyuruh Sayu untuk tunggu di pohon dekat sungai itu dan dia kembali ke sarang penyamun untuk mengambil harta-harta yang ada disana lalu lari bersama Sayu. Tetapi, rencananya gagal karena Medasing tidak sengaja melihat dia pada saat ia baru ingin membuka sebuah peti harta itu. Lalu Samad pun berbohong kepada Medasing dan berkata bahwa ia cuman ingin melihatnya.
Sayu menunggui Samad yang tak kunjung-kunjung kembali lalu dia dengan sangat terpaksa kembali ke sarang penyamun itu. Awalnya, Sayu terbujuk oleh rayuan dan janji-janji Samad. Tetapi, melalui kejadian ini, Sayu mempunyai perasaan yang buruk kepada Samad, dia berpikir bahwa Samad merupakan seorang yang tidak patut dipercayai dan dia tidak akan terbujuk lagi dengan rayuan-rayuannya itu.
Berbulan-bulan kemudian, Sayu pun sudah terbiasa tinggal bersama dengan penyamun-penyamun tersebut dan bahkan dia memasak untuk mereka dan menyiapkan kebutuhan mereka.Walaupun dia tahu bahwa barang-barang yang digunakannya berasal dari pekerjaan yang tidak halal, tetapi dia tidak mempunyai jalan lagi.
Setelah kejadian perampokan Haji Sahak, mereka selalu mengalami kegagalan dalam merampok karena Samad yang selalu membocorkan rahasia mereka kepada para saudagar kaya yang ingin melintasi hutan tersebut. Itulah sebabnya setiap mereka ingin merampok, mereka mendapat perlawanan yang luar biasa. Akibatnya, anak buah Medasing banyak yang meninggal atau terluka parah dan lama kelamaan anak buahnya tinggal seorang yaitu Sanip.
Sejujurnya, Medasing sangat sedih dan hatinya sangat sakit menghadapi kenyataan bahwa anak buahnya telah berhilangan. Dan hatinya bertambah sakit lagi saat dia dan Sanip melakukan perburuan untuk menangkap rusa tetapi mereka malah jatuh ke jurang dan tanpa sengaja Sanip tercucuk oleh tombak yang dipegangnya dan meninggal. Medasing masih bertahan hidup tetapi mengalami luka yang parah.
Sewaktu Medasing kembali ke sarang penyamun, Sayu terkejut melihat Medasing yang jalan tergontai-gontai dan badannya yang berluka-luka serta tangannya yang bengkak. Sayu ingin menolong Medasing tetapi dia takut untuk mendekatinya dan mengingat bahwa Medasing itu seorang pemimpin perampok yang kejam yang sudah membunuh banyak orang bahkan orangtuanya .
Akan tetapi, perasaan takut dan benci itu terkalahkan oleh keinginan besarnya untuk menolong. Dengan perasaan yang takut, dia mendekati Medasing dan  mengobatinya perlahan-lahan tanpa berbiacara satu sama lain. Tetapi hari-hari berikutnya merekapun menjadi dekat dan akrab karena tinggal mereka bedua di sarang penyamun itu.
Medasing bercerita bahwa pada awalnya, Medasing bukan keturunan dari seorang penyamun. Ia merupakan anak dari seorang saudagar kaya. Ayah dan ibu Medasing dibunuh dan dirampok dengan ganas oleh segerombolan penyamun. Dia, karena masih kecil tidak dibunuh tetapi dibawa ke sarang penyamun dan dia diangkat oleh kepala penyamun tersebut sebagai anaknya.
Setelah ayah angkatnya meninggal dunia, ia menjadi pimpinan gerembolan penyamun tersebut. Medasing dari dulu, tidak ada niat dan bercita-cita menjadi perampok. Tetapi, karena ia dibesarkan dilingkungan perampok, maka ia tidak tahu lagi pekerjaan lain selain merampok. Hati Sayu menjadi luluh dan merasa iba kepada Medasing. Lalu, dia merawat Medasing dengan sabar dan sepenuh hati hingga sembuh.
Suatu hari, persediaan makanan dalam hutan sudah habis dan dia mengajak Medasing untuk keluar dari hutan itu dan pergi ke kota Pagar Alam. Sesampainya di Pagar Alam, keduanya langsung pergi ke rumah Sayu. Tetapi, rumah itu ternyata sudah menjadi milik orang lain karena sudah dijual. Sayu langsung mencari informasi dimana ibunya sekarang berada dan langsung menuju ketempat ibunya berada.
Di ujung sebelah barat dusun Pagar Alam, disanalah ibunya tinggal. Ibunya tinggal bersama dengan anak keduanya,tetapi bukan anak kandungnya yaitu Sima. Setelah Sayu sampai di pondok itu, ia langsung mencari ibunya. Betapa bahagiannya ibunya melihat anak perawannya itu datang kembali tetapi sedihnya, itu merupakan pertemuan terakhir mereka.
Melihat kenyataan itu, hati Sayu sangat hancur dan sedih.Begitu juga dengan Medasing, dia sadar akan perbuatan kejamnya yang selama ini ia lakukan. Betapa banyak orang yang tersakiti karena dirinya. Dia merasa sangat malu dan berdosa kepada keluarga Sayu dan memutuskan untuk meninggalkan Sayu.
Sejak saat itu, hidup Medasing berubah. Dia menjadi seorang yang sangat disayangi oleh orang-orang dan dia merupakan saudagar yang kaya raya. Medasing mengubah namanya menjadi Haji Karim. 15 tahun kemudian, Medasing dan istrinya pergi ke tanah suci dan sekembalinya dari tanah suci, orang-orang kampung tersebut menyambut mereka dengan penuh sukacita.
Suatu hari, pada saat Haji Karim sedang duduk sambil melamun, seseorang menjumpai dia dan ternyata orang itu adalah Samad, yang mana ialah anak buahnya sendiri yang selalu ia beri tugas sebagai pengintai.Samad menceritakan kehidupannya yang malang dan sedih, dan Haji Karim mengajaknya untuk tinggal bersama dengan dia tetapi Samad menolak ajakan tersebut.
Haji Karim dan isterinya, yang tak lain adalah Sayu hidup, bahagia dan mereka mempunyai 2 anak. Kampung tersebut menjadi kampung yang aman, tentram dan sentosa.

4.          Unsur intrinstik novel

1.      Tema
Seorang penyamun yang memiliki sifat jahat, tidak berperasaan, dan kejam berubah menjadi seseorang yang baik, bijaksana, dan disenangi oleh banyak orang karena melihat pengaruh kehadiran wanita yang dicintainya.
2.      Tokoh dan Watak
a.       Medasing mempunyai sifat  kejam,ganas,berani,jahat,kuat
Bukti kutipan terdapat pada,“ Medasing menggertakkan giginya, menyumpah-memaki karena ia tiada dapat membalas, menghancur-remukkan orang yang berani mengusiknya itu, karena mereka disembunyikan dan dilindungi oleh hujan dan gelap gulita.”                                                
b.      Haji Karim yang dulunya adalah Medasing mempunyai sifat  baik, bijaksana, penolong, dan rendah hati 
Bukti kutipan terdapat pada, “ Siapakah yang tidak tahu akan pesirah Karim yang ramah kepada segala orang, baik kaya maupun miskin? Yang telah bertahun-tahun memerintah di Pagar Alam dan sekitarnya, senantiasa memikirkan nasib rakyat yang terserah kepadanya, sebagai seorang bapa yang bersedih hati apabila anaknya bersedih hati, dan bersukacita apabila anaknya bersukacita.”
c.       Sayu mempunyai sifat baik,lemah-lembut,penolong,pemaaf,cantik
Bukti kutipan terdapat pada, “ Seperti perempuan itu bersandar di pokok kayu yang berlumut dilindungi oleh daun yang rapat, yang lemah-lembut berdesir-desir, ia sebagian dari kesunyian hutan,aman-sentosa, tak disuik dan tak terusik. Kelopak matanya bertemu, lembut tiada terpaksa sedikit juapun, sehingga matanya yang tertutup itu menjadi suatu garia hitam yang sempurna, di muka yang seperti batu pualam yang kuning kemerah-merahan. Rambutnya hitam, bajunya yang biru dan kainnya yang putih kelabu-labuan, tiada sedikit juapun  berlawanan dengan warna kelabu kulit kayu yang berlumut tempat ia bersandar dan warna hijau-jernih rumput dan daun di rimba sekelilingnya.”
d.      Nyi Hajjah Andun mempunyai sifat tabah,baik,sabar,penyayang
Bukti kutipan terdapat pada, “ Ucapan yang perlahan-lahan yang bukan teruntuk bagi, telinganya itu, menusuk jiwanya, menginsafkan akan kemalangannya yang tiada berhingga. Ada pula kalanya dipaksanya dirinya menoleh kepada orang yang menyapanya itu dan iapun tersenyum menyeringai melihat kepada orang itu untuk menyembunyikan kesedihan hati yang tak dapat disembunyikan.”
e.       Samad mempunyai sifat  pengkhianat,serakah,egois
Bukti kutipan terdapat pada, “Samad berniat untuk mencelakai para penyamun dengan memberitahukan kepada orang yang akan dirampok atau mangsa para penyamun.Sehingga mereka bisa membuat strategi untuk tidak dirampok dan para penyamun selalu gagal dalam merampok.”
f.       Sima mempunyai sifat  baik,berbakti,sabar
Bukti kutipan terdapat pada, “ Telah beberapa lama ia tidak berdaya lagi turun kebawah, sehari-harian ia tidur terlentang di tempat tidur dan jika sekali-kali hendak duduk haruslah ia dibantu oleh Sima. Badannya kurus, kulit bergelambir melekat pada tulang.”
3.      Alur
Novel karya S.Takdir Alisjahbana yang berjudul “Anak Perawan di Sarang   Penyamun ini bercerita menggunakan alur maju-mundur

4.      Latar
        a.       Latar Tempat:
1)      Negeri Pagar Alam
2)       Kota Palembang
3)      Sarang penyamun
4)      Pondok 
5)      Hutan Pagar Alam
       b.      Latar Waktu:
1)      Keesokan harinya
2)      Pada waktu malam
3)      Pada pagi hari
4)      Beberapa lamanya
5)      Semalam
c.    Latar Suasana:
1)      Suasana kesedihan
2)      Suasana mencekam
3)      Suasana keharuan
4)      Suasana kegembiraan
5.      Sudut Pandang
Dalam novel ini, penulis berlaku sebagai orang ketiga sampingan

6.      Amanat
Cerita ini mengajarkan kita bahwa bagaimana pun orang itu jahat pada masa lalunya, maka dia bisa berubah menjadi orang yang baik jika ia mempunyai niat dan kesadaran untuk berubah

5.         Unsur ektrinstik novel
a. Nilai budaya:
Memiliki kebiasaan untuk percaya terhadap hal-hal gaib
Bukti kutipan, “ Disana mereka belajar beberapa bulan dan ketika masaklah perguruan mereka, maka orang tua itu memberi nasehat pergi bertarak ke Gunung Dempo. Disana khabarnya konon tempat jin dan iblis yang dapat memberi manusia kesaktian yang luar biasa”
b.    Nilai sosial :
Sekelompok penyamun yang selalu bekerja sama dan saling tolong menolong dalam melakukan perampokan.  
Bukti kutipan,  Mereka pergi mendapatkan temannya satu persatu. Sohan dilihat mereka telah mati terhantar di tanah. Amat terduduk dibawah pondok, ia masih kuat dan dapat berjalan rupanya. Setelah dikebat Medasing belakang temannya yang malang itu dengan kain, pergilah mereka mendapatkan Tusin yang patah tangan kirinya kena lempar. Iapun telah segar kembali, rupanya cacatnya tiada hebat benar, sehingga telah dapat berjalan pula”
c.    Nilai agama :
Nyi Hajjah Andun yang selalu taat akan melakukan kewajiban agama yang dipercayainya
Bukti kutipan, “ Pada pagi itu duduk di sudut serambi itu bersandar pada dinding seorang perempuan, bertelekung memegang sebuah tasbih. Mulutnya tidak berhenti-henti bergerak membaca-baca dan pada waktu yang tetap antaranya bergerak jarinya memisahkan buah tasbih yang hitam itu. Tetapi pada matanya tiada berpisah-pisah memandang ke suatu tujuan, nyatalah, bahwa ia tiada berapa insaf akan perbuatannya”
d. Nilai moral:
Sekelompok penyamun tidak menganggu dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada Sayu meskipun ia merupakan satu-satunya wanita yang tinggal di pondok penyamun
Bukti kutipan, “ Tambahan pula pekerti kawan penyamun yang tertib dan khidmat terhadap kepadanya, tak sedikit juapun membangkitkan dukacitanya atau menyukarkan hidupnya dan demikianlah dalam persaiangannya ditengah manusia yang ganas dan kejam itu, tak terasa benar kepadanya kemalangannya”

6.         Kelebihan Novel
Kelebihan di dalam novel ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti, memiliki alur cerita yang menarik, dan amanat yang terkandung dalam novel ini sangat bagus

7.         Kelemahan Novel
Kelemahan di dalam novel ini adalah menggunakan gaya bahasa yang berlebihan

8.         Kesimpulan
Novel “ Anak Perawan di Sarang Penyamun” cocok dibaca untuk para remaja karena memiliki pesan-pesan yang dapat kita renungkan dan terapkan di dalam kehidupan sehari-hari seperti kita harus saling tolong menolong walaupun orang yang kita tolong itu jahat kepada kita , dan saling menghargai. Novel ini juga memberitahu kita bahwa jika seseorang yang jahat pasti bisa berubah menjadi baik jika mempunyai niat untuk berubah. Novel ini juga mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh melupakan kewajiban yang ada di agama kita dan selalu berserah kepada Tuhan.