1.
Identitas buku
Judul
Novel : Anak Perawan di
Sarang Penyamun
Penulis : Sutan Takdir
Alisjahbana
Penerbit : PT Dian Rakyat
Tahun
Terbit : 1991
2.
Kepengarangan
Sutan Takdir
Alisjahbana, penulis novel “ Anak Perawan di Sarang Penyamun” ini , lahir di Natal, Sumatera Utara pada tanggal 11
Februari 1908. Beliau adalah seorang budayawan, sastrawan dan ahli tata bahasa
Indonesia. S. Takdir Alisjahbana menutup usia pada 86 tahun di Jakarta, 17 Juli
1994. Beliau menikah dengan 3 orang istri serta dikaruniai 9 orang putra daan
putri . S.Takdir Alisjahbana sekolah HIS di Bengkulu dan tamat pada tahun 1921.
Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, Bukit Tinggi.
Lalu, dia meneruskan HKS di Bandung. Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, STA melanjutkan
ke Hoofdacte Cursus di Jakarta. Sebagian karya-karya beliau yang telah
dibukukan antara lain Tak Putus Dirundung
Malang (novel 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel 1932), Tebaran Mega (
kumpulan sajak,1935), Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang
( novel,1936), Anak Perawan Di Sarang Penyamun ( novel,1940), Puisi Lama (
bunga rampai,1941), Puisi Baru ( bunga rampai,1946).
3.
Sinopsis
Anak Perawan di Sarang Penyamun
Suatu hari, ada seorang saudagar kaya
raya dari Pagar Alam hendak pergi ke Palembang untuk menjual 50 ekor kerbau.
Namanya adalah Haji Sahak. Ia pergi ke Palembang bersama dengan istrinya, Nyi
Hajjah Andun dan anak perawannya yang
bernama Sayu. Mereka pergi bersama dengan penjaga-penjaga membawa
berpuluh-puluh kerbau dan barang dagangan lainnya.
Sehabis mereka berhasil menjual
kerbau-kerbaunya, mereka pun berjalan pulang ke Pagar Alam, tetapi hari telah
malam dan mereka beristirahat di satu pondok. Pada waktu dini hari, sekelompok
penyamun, yang dipimpin oleh Medasing masuk ke dalam pondok tersebut dan
berniat untuk merampok harta-harta dan membunuh semua yang ada di dalam pondok
itu.
Keinginan jahat mereka berhasil
terlaksana. Haji Sahak dan para penjaganya telah terbunuh.Tetapi, istrinya
masih hidup dan dalam kondisi parah. Setelah itu, mereka langsung memeriksa ke
seluruh tempat di pondok itu dan mengambil semua harta-harta yang ada disana
lalu mereka bawa pulang.
Tetapi, tiba-tiba pondok tersebut
terbakar dan mereka mendengar suara seorang wanita yang berteriak-teriak.
Mereka semua pun bingung siapa yang tersisa di pondok itu. Lalu, Medasing
teringat kepada perempuan yang bersembunyi diatas, yaitu Sayu. Seperti bukan
dirinya, dia langsung menerobos masuk ke dalam pondok dan menolong wanita itu.
Wanita
itu sekarang bersama dengan mereka walaupun hatinya sangat berat karena dia
bersamaan dengan orang-orang jahat yang tidak punya hati yang tega membunuh
orangtuanya yang tidak berdosa itu. Karena tidak ada pilihan lagi, Sayu pun
terpaksa tinggal di sarang penyamun.
Suatu ketika, Samad, anak buah Medasing
yang bertugas sebagai pengintai, datang ke sarang penyamun untuk meminta hasil
dari perampokan kemarin. Pada waktu di sana, ia melihat seorang wanita yang
sangat cantik yaitu Sayu. Ia melihat terus wanita itu dan mengikuti kemanapun
dia pergi.
Waktu itu, Sayu berkehendak untuk
melarikan diri dari sarang penyamun itu. Tetapi, dia tidak tahu jalan di hutan
ini. Lalu dia keluar dari pondok itu dan duduk di pohon di tengah hutan. Samad
menjumpainya dan bertanya siapakah dia. Sayu tidak terkejut dengan Samad. Dia
mengira Samad merupakan manusia biasa yang baik tidak seperti para penyamun
itu.
Setelah Samad mendengar cerita Sayu,
Samad pun berkata dan berjanji bahwa ia akan menolong wanita itu untuk keluar
dari hutan ini dan bertemu dengan orang tuanya. Tetapi rupanya, Samad mempunyai
maksud lain dia akan membawa lari wanita itu dan menikahinya karena dia begitu
menyukainya walaupun Samad sudah berkeluarga.
Samad menyuruh Sayu untuk tunggu di
pohon dekat sungai itu dan dia kembali ke sarang penyamun untuk mengambil
harta-harta yang ada disana lalu lari bersama Sayu. Tetapi, rencananya gagal
karena Medasing tidak sengaja melihat dia pada saat ia baru ingin membuka
sebuah peti harta itu. Lalu Samad pun berbohong kepada Medasing dan berkata
bahwa ia cuman ingin melihatnya.
Sayu menunggui Samad yang tak
kunjung-kunjung kembali lalu dia dengan sangat terpaksa kembali ke sarang
penyamun itu. Awalnya, Sayu terbujuk oleh rayuan dan janji-janji Samad. Tetapi,
melalui kejadian ini, Sayu mempunyai perasaan yang buruk kepada Samad, dia
berpikir bahwa Samad merupakan seorang yang tidak patut dipercayai dan dia
tidak akan terbujuk lagi dengan rayuan-rayuannya itu.
Berbulan-bulan kemudian, Sayu pun sudah
terbiasa tinggal bersama dengan penyamun-penyamun tersebut dan bahkan dia
memasak untuk mereka dan menyiapkan kebutuhan mereka.Walaupun dia tahu bahwa
barang-barang yang digunakannya berasal dari pekerjaan yang tidak halal, tetapi
dia tidak mempunyai jalan lagi.
Setelah kejadian perampokan Haji Sahak,
mereka selalu mengalami kegagalan dalam merampok karena Samad yang selalu
membocorkan rahasia mereka kepada para saudagar kaya yang ingin melintasi hutan
tersebut. Itulah sebabnya setiap mereka ingin merampok, mereka mendapat
perlawanan yang luar biasa. Akibatnya, anak buah Medasing banyak yang meninggal
atau terluka parah dan lama kelamaan anak buahnya tinggal seorang yaitu Sanip.
Sejujurnya, Medasing sangat sedih dan
hatinya sangat sakit menghadapi kenyataan bahwa anak buahnya telah berhilangan.
Dan hatinya bertambah sakit lagi saat dia dan Sanip melakukan perburuan untuk
menangkap rusa tetapi mereka malah jatuh ke jurang dan tanpa sengaja Sanip
tercucuk oleh tombak yang dipegangnya dan meninggal. Medasing masih bertahan
hidup tetapi mengalami luka yang parah.
Sewaktu Medasing kembali ke sarang
penyamun, Sayu terkejut melihat Medasing yang jalan tergontai-gontai dan
badannya yang berluka-luka serta tangannya yang bengkak. Sayu ingin menolong Medasing
tetapi dia takut untuk mendekatinya dan mengingat bahwa Medasing itu seorang
pemimpin perampok yang kejam yang sudah membunuh banyak orang bahkan
orangtuanya .
Akan tetapi, perasaan takut dan benci
itu terkalahkan oleh keinginan besarnya untuk menolong. Dengan perasaan yang
takut, dia mendekati Medasing dan
mengobatinya perlahan-lahan tanpa berbiacara satu sama lain. Tetapi
hari-hari berikutnya merekapun menjadi dekat dan akrab karena tinggal mereka
bedua di sarang penyamun itu.
Medasing bercerita bahwa pada awalnya,
Medasing bukan keturunan dari seorang penyamun. Ia merupakan anak dari seorang
saudagar kaya. Ayah dan ibu Medasing dibunuh dan dirampok dengan ganas oleh
segerombolan penyamun. Dia, karena masih kecil tidak dibunuh tetapi dibawa ke sarang
penyamun dan dia diangkat oleh kepala penyamun tersebut sebagai anaknya.
Setelah ayah angkatnya meninggal dunia,
ia menjadi pimpinan gerembolan penyamun tersebut. Medasing dari dulu, tidak ada
niat dan bercita-cita menjadi perampok. Tetapi, karena ia dibesarkan
dilingkungan perampok, maka ia tidak tahu lagi pekerjaan lain selain merampok.
Hati Sayu menjadi luluh dan merasa iba kepada Medasing. Lalu, dia merawat
Medasing dengan sabar dan sepenuh hati hingga sembuh.
Suatu hari, persediaan makanan dalam hutan
sudah habis dan dia mengajak Medasing untuk keluar dari hutan itu dan pergi ke
kota Pagar Alam. Sesampainya di Pagar Alam, keduanya langsung pergi ke rumah
Sayu. Tetapi, rumah itu ternyata sudah menjadi milik orang lain karena sudah
dijual. Sayu langsung mencari informasi dimana ibunya sekarang berada dan
langsung menuju ketempat ibunya berada.
Di ujung sebelah barat dusun Pagar Alam,
disanalah ibunya tinggal. Ibunya tinggal bersama dengan anak keduanya,tetapi
bukan anak kandungnya yaitu Sima. Setelah Sayu sampai di pondok itu, ia
langsung mencari ibunya. Betapa bahagiannya ibunya melihat anak perawannya itu
datang kembali tetapi sedihnya, itu merupakan pertemuan terakhir mereka.
Melihat kenyataan itu, hati Sayu sangat
hancur dan sedih.Begitu juga dengan Medasing, dia sadar akan perbuatan kejamnya
yang selama ini ia lakukan. Betapa banyak orang yang tersakiti karena dirinya.
Dia merasa sangat malu dan berdosa kepada keluarga Sayu dan memutuskan untuk
meninggalkan Sayu.
Sejak saat itu, hidup Medasing berubah.
Dia menjadi seorang yang sangat disayangi oleh orang-orang dan dia merupakan
saudagar yang kaya raya. Medasing mengubah namanya menjadi Haji Karim. 15 tahun
kemudian, Medasing dan istrinya pergi ke tanah suci dan sekembalinya dari tanah
suci, orang-orang kampung tersebut menyambut mereka dengan penuh sukacita.
Suatu hari, pada saat Haji Karim sedang
duduk sambil melamun, seseorang menjumpai dia dan ternyata orang itu adalah
Samad, yang mana ialah anak buahnya sendiri yang selalu ia beri tugas sebagai pengintai.Samad
menceritakan kehidupannya yang malang dan sedih, dan Haji Karim mengajaknya
untuk tinggal bersama dengan dia tetapi Samad menolak ajakan tersebut.
Haji Karim dan isterinya, yang tak lain
adalah Sayu hidup, bahagia dan mereka mempunyai 2 anak. Kampung tersebut
menjadi kampung yang aman, tentram dan sentosa.
4.
Unsur
intrinstik novel
1. Tema
Seorang
penyamun yang memiliki sifat jahat, tidak berperasaan, dan kejam berubah
menjadi seseorang yang baik, bijaksana, dan disenangi oleh banyak orang karena
melihat pengaruh kehadiran wanita yang dicintainya.
2. Tokoh
dan Watak
a. Medasing
mempunyai sifat kejam,ganas,berani,jahat,kuat
Bukti kutipan terdapat
pada,“ Medasing menggertakkan giginya,
menyumpah-memaki karena ia tiada dapat membalas, menghancur-remukkan orang yang
berani mengusiknya itu, karena mereka disembunyikan dan dilindungi oleh hujan
dan gelap gulita.”
b. Haji
Karim yang dulunya adalah Medasing mempunyai sifat baik, bijaksana, penolong, dan rendah
hati
Bukti kutipan terdapat
pada, “ Siapakah yang tidak tahu akan
pesirah Karim yang ramah kepada segala orang, baik kaya maupun miskin? Yang
telah bertahun-tahun memerintah di Pagar Alam dan sekitarnya, senantiasa
memikirkan nasib rakyat yang terserah kepadanya, sebagai seorang bapa yang
bersedih hati apabila anaknya bersedih hati, dan bersukacita apabila anaknya
bersukacita.”
c. Sayu
mempunyai sifat baik,lemah-lembut,penolong,pemaaf,cantik
Bukti kutipan terdapat
pada, “ Seperti perempuan itu bersandar
di pokok kayu yang berlumut dilindungi oleh daun yang rapat, yang lemah-lembut
berdesir-desir, ia sebagian dari kesunyian hutan,aman-sentosa, tak disuik dan
tak terusik. Kelopak matanya bertemu, lembut tiada terpaksa sedikit juapun,
sehingga matanya yang tertutup itu menjadi suatu garia hitam yang sempurna, di
muka yang seperti batu pualam yang kuning kemerah-merahan. Rambutnya hitam,
bajunya yang biru dan kainnya yang putih kelabu-labuan, tiada sedikit
juapun berlawanan dengan warna kelabu
kulit kayu yang berlumut tempat ia bersandar dan warna hijau-jernih rumput dan
daun di rimba sekelilingnya.”
d. Nyi
Hajjah Andun mempunyai sifat tabah,baik,sabar,penyayang
Bukti kutipan terdapat
pada, “ Ucapan yang perlahan-lahan yang
bukan teruntuk bagi, telinganya itu, menusuk jiwanya, menginsafkan akan
kemalangannya yang tiada berhingga. Ada pula kalanya dipaksanya dirinya menoleh
kepada orang yang menyapanya itu dan iapun tersenyum menyeringai melihat kepada
orang itu untuk menyembunyikan kesedihan hati yang tak dapat disembunyikan.”
e. Samad
mempunyai sifat pengkhianat,serakah,egois
Bukti kutipan terdapat
pada, “Samad berniat untuk mencelakai
para penyamun dengan memberitahukan kepada orang yang akan dirampok atau mangsa
para penyamun.Sehingga mereka bisa membuat strategi untuk tidak dirampok dan para
penyamun selalu gagal dalam merampok.”
f. Sima
mempunyai sifat baik,berbakti,sabar
Bukti kutipan terdapat
pada, “ Telah beberapa lama ia tidak
berdaya lagi turun kebawah, sehari-harian ia tidur terlentang di tempat tidur
dan jika sekali-kali hendak duduk haruslah ia dibantu oleh Sima. Badannya
kurus, kulit bergelambir melekat pada tulang.”
3. Alur
Novel
karya S.Takdir Alisjahbana yang berjudul “Anak Perawan di Sarang Penyamun ini bercerita menggunakan alur
maju-mundur
4. Latar
a. Latar
Tempat:
1) Negeri
Pagar Alam
2) Kota Palembang
3) Sarang
penyamun
4) Pondok
5) Hutan
Pagar Alam
b. Latar
Waktu:
1) Keesokan
harinya
2) Pada
waktu malam
3) Pada
pagi hari
4) Beberapa
lamanya
5) Semalam
c. Latar
Suasana:
1) Suasana
kesedihan
2) Suasana
mencekam
3) Suasana
keharuan
4) Suasana
kegembiraan
5. Sudut
Pandang
Dalam novel ini,
penulis berlaku sebagai orang ketiga sampingan
6. Amanat
Cerita ini mengajarkan
kita bahwa bagaimana pun orang itu jahat pada masa lalunya, maka dia bisa
berubah menjadi orang yang baik jika ia mempunyai niat dan kesadaran untuk
berubah
5.
Unsur ektrinstik novel
a.
Nilai budaya:
Memiliki kebiasaan
untuk percaya terhadap hal-hal gaib
Bukti kutipan, “ Disana mereka belajar beberapa bulan dan
ketika masaklah perguruan mereka, maka orang tua itu memberi nasehat pergi
bertarak ke Gunung Dempo. Disana khabarnya konon tempat jin dan iblis yang
dapat memberi manusia kesaktian yang luar biasa”
b. Nilai
sosial :
Sekelompok penyamun
yang selalu bekerja sama dan saling tolong menolong dalam melakukan perampokan.
Bukti kutipan, “
Mereka pergi mendapatkan temannya satu persatu. Sohan dilihat mereka
telah mati terhantar di tanah. Amat terduduk dibawah pondok, ia masih kuat dan
dapat berjalan rupanya. Setelah dikebat Medasing belakang temannya yang malang
itu dengan kain, pergilah mereka mendapatkan Tusin yang patah tangan kirinya
kena lempar. Iapun telah segar kembali, rupanya cacatnya tiada hebat benar,
sehingga telah dapat berjalan pula”
c. Nilai
agama :
Nyi Hajjah Andun yang
selalu taat akan melakukan kewajiban agama yang dipercayainya
Bukti
kutipan, “ Pada pagi itu duduk di sudut
serambi itu bersandar pada dinding seorang perempuan, bertelekung memegang
sebuah tasbih. Mulutnya tidak berhenti-henti bergerak membaca-baca dan pada
waktu yang tetap antaranya bergerak jarinya memisahkan buah tasbih yang hitam
itu. Tetapi pada matanya tiada berpisah-pisah memandang ke suatu tujuan,
nyatalah, bahwa ia tiada berapa insaf akan perbuatannya”
d.
Nilai moral:
Sekelompok penyamun
tidak menganggu dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada Sayu meskipun
ia merupakan satu-satunya wanita yang tinggal di pondok penyamun
Bukti kutipan, “ Tambahan pula pekerti kawan penyamun yang
tertib dan khidmat terhadap kepadanya, tak sedikit juapun membangkitkan
dukacitanya atau menyukarkan hidupnya dan demikianlah dalam persaiangannya
ditengah manusia yang ganas dan kejam itu, tak terasa benar kepadanya
kemalangannya”
6.
Kelebihan Novel
Kelebihan di dalam
novel ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti, memiliki alur cerita yang
menarik, dan amanat yang terkandung dalam novel ini sangat bagus
7.
Kelemahan Novel
Kelemahan di dalam
novel ini adalah menggunakan gaya bahasa yang berlebihan
8.
Kesimpulan
Novel “ Anak Perawan di Sarang Penyamun” cocok dibaca untuk para remaja karena
memiliki pesan-pesan yang dapat kita renungkan dan terapkan di dalam kehidupan
sehari-hari seperti kita harus saling tolong menolong walaupun orang yang kita
tolong itu jahat kepada kita , dan saling menghargai. Novel ini juga
memberitahu kita bahwa jika seseorang yang jahat pasti bisa berubah menjadi
baik jika mempunyai niat untuk berubah. Novel ini juga mengajarkan kita bahwa
kita tidak boleh melupakan kewajiban yang ada di agama kita dan selalu berserah
kepada Tuhan.