Rabu, 12 Oktober 2016

Teladan Hidup Najwa Shihab


 https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/
0/09/Najwa_Shihab.jpg/220px-Najwa_Shihab.jpg
Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar acara yang berjudul “Mata Najwa” yang ditayangkan di stasiun televisi MetroTV. Acara ini dibawakan oleh seorang wanita yang bernama lengkap Najwa Shihab, yang memiliki panggilan Nana. Wanita satu ini lahir di Makassar,pada tanggal 16 September 1977. Ia merupakan  putri kedua dari Prof.Dr.Quaraish Shihab, seorang cendekiawan muslim di Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama era Kabinet PembangunanVII. Ibunya bernama Fatmawati. Nana memiliki suami yang bernama Ibrahim Assegraf dan dikaruniai seorang putra yang bernama Izzat.            
Pendidikan
Pada waktu SMA, Najwa terpilih sebagai siswa yang mengikuti program AFS (American Field Service) yang merupakan program pertukaran pelajar di Amerika. Program ini memberi kita kesempatan untuk merasakan bagaimana belajar dan tinggal di negara maju. Pada waktu itu, program ini spesifik menuntut kita untuk pulang ke tanah air setelah kita 1 tahun berada disana untuk memperkaya ilmu dan pengetahuan yang akan dikembangkan di Indonesia. Kalau di Indonesia, program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya.
Saat memasuki perguruan tinggi, Najwa Shihab kuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan ilmu hukum dan menjadi alumni pada tahun 2000. Tahun 2008, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Australia, melalui beasiswa dan dia mengambil jurusan ilmu hukum media di Melbourne Law School. Kesempatan ini ia ambil untuk menjadi bekal dan memperluas ilmunya agar bisa  dibawa ke tanah air dan diterapkan. Wanita ini lulus sebagai Sarjana Hukum tetapi ia lebih memilih terjun di dunia jurnalistik ketimbang seorang pengacara.
Awal Karir
Pada waktu kuliah semester terakhir di Universitas Indonesia, tepatnya sebelum skripsi, beliau mendapat peluang untuk magang sebagai reporter di RCTI selama 3 bulan. Dari pengalaman tersebut, ia banyak mendapat pengetahuan tentang dunia jurnalis televisi, broadcasting dan bagaimana menjadi wartawan TV yang benar. Dari situlah, ia menyukai profesi jurnalis ini. Pada tahun 2000, ketika MetroTV pertama kali membuka lowongan wartawan, dia mendaftar dan diterima sebagai reporter pertama MetroTV. Lalu sampai sekarang, ia pun tetap berada di MetroTV karena stasiun TV tersebut lebih cocok dan menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.
Penghargaan
Pada tahun 2005, ia memperoleh pernghargaan dari PWI Pusat dan PWI Jaya untuk laporan-laporannya dari Aceh, saat tsunami melanda kawasan itu pada bulan Desember 2004. Liputan dan laporannya dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap bencana tersebut. Najwa tiba di Aceh pada hari-hari pertama bencana, menjadi saksi mata kedahsyatan musibah itu, berada di tengah tumpukan mayat yang belum terurus, dan menjadi saksi pula betapa pemerintah tidak siap menghadapinya. Tak heran beberapa laporan live-nya amat emosional. Meski demikian, ia tidak kehilangan daya kritis dan ketajamannya.Orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas penganganan pasca-bencana adalah Alwi Shihab,Menko Kesra waktu itu, yang tak lain adalah pamannya. Pakar komunikasi UI, Effendi Ghazali yang terkesan dengan laporan-laporannya, menyebut fenomena itu sebagai Shihab vs Shihab.
Tahun 2006, ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik MetroTV. Pada tahun 2006-2015, beliau berturut-turut berada dalam nominasi Panasonic Awards dan Panasonic Gobel Awards sebagai Pembaca Berita Terfavorit dan Presenter Talkshow Berita dan Informasi Terfavorit . Pada tahun yang sama pula, bersama sejumlah wartawan dari banyak negara, Najwa Shihab terpilih menjadi salah seorang peserta Senior Journalist Seminar yang diadakan di sejumlah kota di AS, dan juga ia menjadi seorang pembicara di Konvensi Asian American Journalist Association. Penghargaannya sebagai seorang jurnalis profesional tidak hanya pada level nasional saja melainkan juga pada level internasional, yaitu ia berhasil masuk dalam nominasi 5 besar Asian Television Awards dalam kategori Best Current Affairs/Talkshow presenter.
 Presenter Najwa Shihab meraih penghargaan Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF) yang berkedudukan di Geneva,Swiss. Penghargaan YGL diberikan WEF setiap tahun terhadap para profesional muda berusia dibawah 40 tahun dari seluruh dunia. Ribuan kandidat diseleksi secara ketat oleh sebuah Komite Seleksi yang diketuai Ratu Rania Al Abdullah dari Yordania. Najwa Shihab terpilih sebagai YGL 2011 setelah Komite Seleksi melakukan penyaringan yang sangat ketat terhadap ribuan profesional muda dalam berbagai disiplin ilmu dan profesi, dari seluruh dunia.
Dalam surat yang ditandatangani oleh Executive Chairman The Forum of Young Global Leaders, David Aikman, Najwa Shihab terpilih sebagai YGL 2011 karena pencapaian profesional, komitmen terhadap masyarakat dan kontrubusinya yang potensial dalam membentuk masa depan dunia dengan kepemimpinannya yang memberi inspirasi terhadap kaum muda lainnya. Dengan pencapaian itu, Najwa Shihab diundang untuk menjadi anggota aktif dari The Forum of Young Global Leaders. Forum ini merupakan jaringan profesional muda pilihan dari seluruh dunia yang diharapkan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi penyelesaian masalah global.

Acara yang dibawakan
Najwa telah menjadi pembawa acara di “Mata Najwa” sejak 25 November 2009. Selain itu, dia juga membawakan berita di “Primetime Metro Hari Ini”. Salah satu acara yang dipandu Najwa Shihab dan cukup membekas di benak publik, adalah debat kandidat Gubernur DKI Jakarta. Debat yang mempertemukan pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dan Dang Daradjatun-Dani Anwar itu diselenggrakan oleh KPUD DKI Jakarta, disiarkan secara langsung oleh MetroTV dan JakTV. Najwa terpilih sebagai pemandu debat menyisihkan sejumlah pembawa acara yang diseleksi KPUD DKI Jakarta. Najwa merupakan wartawan pertama yang mewawancarai  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak lama setelah pelantikan. Hampir semua tokoh politik nasional pernah diwawancarainya. Tokoh mancanegara yang pernah ia wawancarai, antara lain adalah mantan Deputi  Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Pekerjaan yang berkesan
Sebagai jurnalis, harus selalu kritis dan harus mengetahui berbagai hal beserta penyebabnya. Najwa telah menjadi jurnalis selama 15 tahun dan setiap hari pun ia selalu belajar hal-hal baru karena yang dihadapi selalu berbeda-beda. Setiap haripun, ia membaca 5-6 koran dan majalah tertentu karena jika kita banyak membaca, pengetahuan kita akan bertambah dan kita menjadi mengetahui banyak hal yang belum kita ketahui. Menurutnya, semua pengalaman yang berkaitan dengan politik dan hukum merupkan pengalaman yng berkesan serta pengalaman yang meliputi peristiwa bencana-bencana alam juga.
Wanita yang memiliki ketertarikan kuat di dunia hukum dan politik ini sangat senang jika mewawancarai tokoh-tokoh politik nasional, tokoh-tokoh yang berperan dalam negara, ataupun orang-orang tertentu. Karena, hasil dari wawancara tersebut , bisa memberikan informasi kepada seluruh masyarakat dan sangat berpengaruh untuk mereka. Seperti, jika diadakan pemilu maka wartawan akan mewawancarai calon presiden dan calon wakil presiden,hal itu bisa membantu masyarakat dalam mempertimbangkan pilihannya dan hal itu merupakan reward terbesar yang bisa diterima oleh Najwa karena ia merasa bermanfaat bagi masyarakat.
Pesan
Jurnalis senior ini berkata bahwa perkerjaan sebagai jurnalis sangat menyenangkan, sangat menantang dan jika anda ingin menjadi jurnalis, pastikan passion anda memang di dunia ini. Jika passion anda disini, pasti pekerjaan ini tidak akan membosankan karena selalu dihadapi dengan hal-hal yang baru setiap harinya. Kunci keberhasilan dalam dunia ini adalah persistensi dan kita harus kekeh. Bukan hanya untuk dunia jurnalis, untuk bidang lain juga kunci keberhasilannya adalah persistensi. Karena dunia terbuka, pesaing banyak. Jadi, jika kamu tidak persisten maka keinginanmu akan tenggelam dan kamu tidak bisa berhasil nantinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar